Semua Akan Indah Pada Waktunya : Pelajaran dari Kisah LDR Nabi Ibrahim AS & Siti Hajar RA

Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh.. sepertinya postingan2 saya yang terdahulu belum ada yang dibuka dengan kalimat salam ya.. there you go 🙂
Intermezzo sedikit.. saya pasti akan menyelipkan potongan surah Wal Ashr dalam tulisan saya.. Sebuah kalimat pengingat yg sangat indah dari sang maha pencipta Allah swt, “demi masa” untuk mengingatkan saya untuk tidak menyianyiakan waktu di dunia.. Saya dan keluarga terpaut waktu 6 jam naik kereta, 8-10 jam berkendara mobil, dan 1 jam naik pesawat.. ga terlalu jauh tapi ga bisa ketemu tiap hari.. hehe jadi daripada larut dalam kangen2an yang berlebihan mending ditulis untuk bisa dishare di blog ini.
LDR emang super ga enak, dikit2 kangen, dikit2 mellow, tapi klo diturutin ga enaknya terus ya ga ada abisnya, bikin pikiran butek, ga kreatif, dan badan sakit2.. Mungkin saya bisa ambil positifnya, dengan LDRan saya diminta oleh Allah SWT untuk lebih memperbaiki diri agar saya menghargai waktu saat dengan keluarga. Dikasih cobaan sedikit jauh dari keluarga yang kalo diambil hikmahnya berarti bisa lebih banyak waktu untuk mendekatkan diri sama Allah SWT. 🙂
Sebenernya LDR yang saya alami ini, masih tergolong cobaan ringan, lho kok? Ya karena masih berada satu pulau, jarak tempuh seperti yang sudah saya sampaikan diatas itu ga terlalu jauh, klo mau nekat2an sih bisa aja pulang ke Jakarta ( paling disindir-sindir.. saya ga mempan disindir 🙂 ). Klo saya mau lihat ke bawah, masih banyak temen saya yang pisah sama keluarganya, terpisah pulau, terpisah waktu, bahkan terpisah negera. Sama kaya saya mereka juga punya 1 kesulitan.. yaitu sulit pulang 🙂
Baiklah, pada tulisan kali ini saya mau mengambil contoh LDRnya tokoh2 dunia, atau lebih tepat kisah-kisah tokoh dunia yang dapat saya jadikan contoh penguat hati ini dan pengingat bahwa Allah SWT tidak akan pernah meninggalkan hambanya yang saleh, contohnya dari salah satu Nabi yang sangat penting dalam ajaran agama Islam yaitu Nabi Ibrahim AS.
Chapter 1: Nabi Ibrahim dan Siti Sarah Dambakan Anak..
Seperti keluarga pada lazimnya, Nabi Ibrahim dan istrinya Siti Sarah sangat mendambakan seorang anak untuk menghiasi pernikahan mereka. Namun, apa daya, hingga usia lanjut yang ditunggu tidak kunjung hadir, ingin membahagiakan suami, dengan besar hati Siti Sarah mengizinkan Ibrahim untuk menikahi Siti Hajar.
Chapter 2 : Siti Hajar dan Bayi Ismail.
Pucuk dicinta ulam tiba, pernikahan Ibrahim dan Siti Hajar dikarunia anak laki-laki yang diberi nama Ismail. Keluarga Ibrahim, Siti Sarah, Siti Hajar, dan Bayi Ismail tinggal bersama. Kemudian munculah perintah Ibrahim AS untuk membawa Siti Hajar dan bayi Ismail meninggalkan rumahnya yang nyaman.
Chapter 3 : Cobaan dan ketabahan
Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail yang masih bayi, melakukan perjalanaan di tengah gurun pasi, (dapat dibayangkan yaa.. tabahnya mereka.. panas dan matahari menyengat, angin gurun, ismail yang masih bayi). Sampai akhirnya Ibrahim diperintahkan untuk berhenti di tengah gurun pasir.
Cobaan untuk hamba yang soleh tidak berhenti sampai disitu, di tengah gurun, dengan persediaan air dan makanan yang terbatas, Siti Hajar dan Bayi Ismail harus ditinggalkan oleh Ibrahim untuk memberi kabar kepada Siti Sarah (dengan tidak lupa sebelumnya Ibrahim telah membangunkan tenda untuk tempat berlindung istri dan anaknya). Sebagai hamba yang soleh, diberikan keadaan sedemikian rupa, Sendirian di tengah gurun pasir, harus menjaga anak, kekurangan air dan makanan, tanpa kepastian kapan suaminya akan kembali, Siti Hajar tetap istiqomah berdoa kepada Allah SWT.. “Allah tidak akan membiarkan kita… Allah tidak akan membiarkan kita” ucap Siti Hajar penuh keyakinan.
Dengan ketakwaannya kepada Allah SWT inilah, Allah tidak akan pernah meninggalkan hambanya, hal ini terbukti ketika persediaan air dan makanan habis, Siti Hajar pun mencari cara bagaimana dapat memberikan makanan dan air kepada Ismail, dia berlari antara Safa dan Marwa untuk mencari sumber mata air sehingga akhirnya Allah SWT memberikan mereka sebuah sumber air yang disebut air Zam Zam.
Chapter 4 : Terpisah 12 tahun, Melihat dan bertemu setiap 4 tahun.
Sumber mata air zam zam tersebut menjadi berkah tersendiri, perlahan namun pasti lahan di sekitarnya jadi subur dan bisa ditanami, penduduk mulai berdatangan dan Siti Hajar dan Ismail tidak lagi sendirian. Lalu bagaimana dengan Ibrahim, sebagai seorang ayah Ibrahim yang mendambakan anak, tentunya dia juga ingin tau bagamana keadaan anaknya, dan Ibrahim baru boleh diijinkan untuk menengok anak & istrinya setelah 4 tahun.. bayangkan men.. 4 tahun. Setelah 4 tahun menengok tersebut, Allah SWT pun hanya perintahkan pada Ibrahim agar jangan terlihat oleh anak & istrinya, Incognito. Jadi selama ini Nabi Ibrahim AS terus ber da’wah dan mempasrahkan.. yakin kepada Allah SWT Anak dan Istrinya dijaga olehNya dan terbukti Allah SWT menjaga dengan baik Siti Hajar dan Ismail.
4 tahun berikutnya Ibrahim kembali menengok anak istrinya, kali ini boleh bertemu namun tidak boleh turun dari kendaraan (Unta Seri 7 J). Sebagai istrinya yang ingin berbakti kepada suami, Siti Hajar bermaksud untuk menghilangkan debu dari tubuh Ibrahim, Ibrahim yang terenyuh dengan bakti istrinya tersebut terenyuh. Untuk menutupi kesedihannya, Ibrahim meminta Siti Hajar untuk membasuh mukanya agar tetes air mata Ibrahim samar dengan basuhan air zam zam.
4 tahun berikutnya barulah mereka diperbolehkan untuk berkumpul. Total 12 tahun hidup terpisah. Nabi Ibrahim AS berda’wah di jalan Allah SWT dan Siti Hajar mengurus Ismail kecil dengan penuh kasih sayang sehingga dengan ke istiqomahannya itu kelak Ismail pun menjadi seorang Nabi yang dikasihi Allah SWT.
Nah, dari kisah Nabi Ibrahim AS dan anak istrinya yang dipisahkan selama kurang lebih 12 tahun, dengan segala cobaan yang membentang, harusnya kita dapat belajar beberapa hal baik dari sisi saya seorang suami, begitupula dengan wanita sebagai istri.
  1. Yakin dan percaya kepada Allah SWT.. Apapun yang kita hadapi sekarang ini merupakan ketentuan Allah SWT, sehingga kita sebagai hambanya harus yakin pasti ada hikmah dibalik kejadian yang kita alami saat ini. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya berdoa, dan yakin.. bahwa Allah SWT tidak akan meninggalkan hambanya dan membiarkan hambanya dalam kesulitan.. apalagi hambanya yang Soleh dan solehah (Self Reminder!!).
  1. Bakti Seorang Siti Hajar. Walaupun sudah ditinggalkan dengan tidak diberikan alasan (kaya lirik lagu melayu yang mendayu dayu), Siti Hajar tetap berbakti kepada suaminya. Keteladanan Siti Hajar patut ditiru oleh Ibu2 sekalian. Namun, saya ingatkan kepada suami jangan mentang2 suaminya berbakti ditinggalkan ke perantauan, eh di perantauan suaminya kurang ajar.. itu sama aja boong.. jangan macem2 ya para suami (carefull guys) 🙂
Dengan membaca kisah ini saya belajar untuk berhenti bersedih dan mempertanyakan keadaan saya saat ini. Saya yakin kok cobaan ini akan berlalu dengan baik dan semua akan Indah pada waktunya.
Kapan? Saat saya berkumpul kembali sama Erika dan Ben 🙂
Untuk saat ini saya akan coba untuk tidak bersedih.
La tahzan Innalaha Ma’ana.
R
Semarang, 14 Aug 15
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s