Penyakit LDR

“If you want to live together, you first need to learn how to live apart.” – Anonymous
Kata-kata diatas cuma buat menyenangkan hati saya kok, padahal sih sebenernya enakan tinggal bareng dan ga kepisah.. idealnya.. Seperti sudah saya mention sebelumnya, kangen keluarga itu ga ada obatnya kecuali ketemu langsung dan menghabiskan waktu bersama mereka. Itu kalo bicara keluarga ideal lho.. yang setiap hari ketemu, tapi di situasi yang unik ini saya dan Erika tetap harus bisa mensiasatinya. LDR itu sakit lhoo.. jauh2an.. kangen2an.. dan dari sakit itu bisa jadi penyakit.
Jika boleh saya menganalogikan Long Distance Relationship yang sekarang saya dan Erika lakukan ini, layaknya sel kanker (mohon maaf tidak bermaksud menyinggung atau mendiskreditkan, hanya penggambaran ini yang langsung terlintas di kepala saya). Mengapa demikian? Seperti yang saya kutip dari Wikipedia,  kanker adalah penyakit yang ditandai dengan kelainan siklus sel khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk:
Dan setiap orang mempunyai sel kanker right? Namun tergantung bagaimana orang tersebut bisa menjaga pola hidup, diet, factor lingkungannya, dan jangan dilupakan kuasa Allah SWT agar sel tersebut tidak menjadi cacat atau abnormal.
Jadi apa persamaan kanker dengan LDR sehingga saya bisa mengasosiasikan kedua hal tersebut,
  1. LDR adalah kondisi abnormal atau kelainan, dimana seharusnya seorang pasangan yang sudah berkeluarga itu lazimnya atau normalnya adalah tinggal bersama, satu atap, tiap hari ketemu, menjaga anak bersama, dan lain lain dan lain lainnya.Namun pada kondisi LDR hal itu tidak dapat dilakukan. Apakah berbahaya? Tentu saja berbahaya.
  1. Dengan menjalani LDR, berarti si pasangan harus siap menghadapi berbagai  tantangan dan rintangan yang kadang tumbuh tidak terkendali, contohnya perasaan kesepian yang tidak terkendali, rasa kangen yang tidak terkendali, rasa sumpek yang tidak terkendali yang dapat melebihi batas normal jika tinggal jauh2an.
  1. Berbahaya. Jangan ditanya betapa bahayanya penyakit yang disebabkan kasus abnormalnya sel ini, Kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama dunia. Nah bagaimana dengan LDR, menurut saya faktor2 tidak terkendali tadi yang sudah jadi bahan untuk menyerang pasangan, dan timbul keitdakpuasan sehingga ada keinginan untuk  bermigrasi ke pasangan lainnya hehe.. jika sudah masuk pada tahap migrasi sih pasti udah bukan membahayakan lagi bagi hubungan, tapi sudah selesai dan silahkan masuk tahap perpisahan (amit amit jabangida!).
Memang saya belum mensurvei secara langsung berapa persen perpisahan karena disebabkan LDR dan faktor2nya.. namun klo saya scanning singkat di mbah google sih ada satu artikel yang menginfokan bahwa 38% dari pasangan di Pacitan cerai gara2 LDR.. itu pun data tahun 2012 broo hehe. http://www.lensaindonesia.com/2012/12/17/long-distance-relationship-jadi-penyebab-tingginya-perceraian.html
Kanker itu sampai saat ini belum ada obatnya, dan belom bisa sepenuhnya sembuh, maka itu pasien yang kondisinya membaik disebut survivor. Untuk pasangan LDR juga sama aja, kita ini survivor ladies and gentleman kita harus survive dengan kesendirian, rasa kangen, dan lain2.. yang udah punya anak lebih-lebih lagi.. beugh lebih nyesek broo.. ibaratnya stadium akut.. ga ada obatnya.. saya ulangi lagi ya.. ga ada obatnya untuk pasangan yang LDR kecuali ketemu dan ga LDR-an lagi.
Jadi klo ga ada obatnya gimana dong? Dibiarin aja gitu? Klo saya sih engga.. saya coba terus dan berusaha, lawan!!
Obat emang ga ada, tapi suplemen dan tips untuk “penyembuhan” harus punya. Klo versi saya ada beberapa hal yang bisa saya lakukan dengan Erika saat kita LDR-an:
  1. Komunikasi yang baik itu jelas banget kudu dan mesti dijaga, sound cliche, namun semua persoalan berawal dari komunikasi dan diakhiri ddengan komunikasi kan? Kalo bagi saya dan Erika komunikasi yang nyaman malah komunikasi yang ga mengganggu aktivitas masing2. Oleh karenanya kita berdua musti tau jadwal pasangannya masing2. Klo saya dan Erika sih yang penting saling ngabarin, klo kita mau pergi kemana, pergi kemana, yang penting ngabarin. Komunikasi ga musti sering, ga musti telpan tiap jam tapi tau kapan pas waktu enak ngobrol dan waktu ga ada kesibukan. Simple communication juga penting lho.. seperti good nite, good mornig.. hug (berserta emoticon) it work on us sih 🙂
    Oia satu lagi masalah komunikasi ini, medium komunikasi yang saat ini sangat diandelin adalah menggunakan gadget, dan social media.  Sebisa mungkin saat kita ketemu, saya dan Erika sangat meminimalisir penggunaan gadget biar pas deket emang kerasa deket tanpa ada perantara, “jangan ada gadget Diantara kita” Soalnya klo masih main gadget nanti udah deket masih berasa jauh. Kita cukup pake gadget untuk mendekatkan hubungan kita saat kita jauh.. caelah..
  1. Jujur. “Jujur.. jujur.. jujur klo mau hidup lo ga ancur” –  Babe Sabeni, Si Doel Anak Sekolahan Season 1.
    Dalam LDR kejujuran ini penting banget sih klo menurut saya, sekali bohong dan ketahuan, beh susah banget dapet kehidupan aman nyaman damai sentosa mayapada. Bayangin deh, udah jauh2an tapi ga jujur.. halo pak/bu, pintu perceraian ada di sebelah sini silahkan masuk.
  1. Lingkungan. Lingkungan pengaruh banget, sebisa mungkin kita tinggal di lingkungan yang meminimalisir timbulnya fitnah dan kesempatan broo. Contoh sebisa mungkin saya cari tempat tinggal yang ga bareng2 lawan jenis. Atau Erika ga tinggal sendirian tapi sama orang tuanya (selain masih bisa dapet perhatian, pastinya aman, orang tua mana sih yang ga akan ngelindungin anaknya).
  1. Pujian. Ini penting sih buat Erika.. klo buat saya sih engga, jadinya saya harus lebih sering muji Erika (pembunuhan karakter).
  1. Bikin sesuatu barengan penting lho.. saya sih baca di tips LDR dari web lain dan coba aplikasiin dan it works.. ngaruh banget.. contohnya blog bareng ini lah hehe.. selain itu kaya baca buku juga kita suka baca buku sama biar bisa kita obrolin.
Tapi sekali lagi hal2 diatas itu usaha saya dan Erika.. sampai kapan? Sampai saya pindah ke Jakarta dan ga LDRan lagi.. stay positive.. Allah SWT pasti akan nolong saya dan Erika.. selagi saya masih di Semarang Allah akan menjaga Erika, Ben, Nenek dan orang2 yang saya sayangi di Jakarta. Semoga penyakit LDR ini masih bisa kita tahun dan ga menyebabkan kematian hubungan saya dan Erika.. dan kalian bisa sebut kami “survivor of LDR.”
Amin Ya Rabbal Alamin

ldr

I Heart Erika and Ben..
R
Sore pengap di Semarang, 10 Aug 2015
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s